Harga Tiket: Rp 10.000; Map: Cek Lokasi
Alamat: Jl. Mayor Kusen, Sumberrejo, Mendut, Kec. Mungkid, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

Sekitar 38 kilometer dari pusat Kota Jogja, Anda bisa menemukan beberapa bangunan candi yang merupakan salah satu warisan dari abad ke-9 yang masih terjaga, salah satunya Candi Mendut. Candi di Magelang ini adalah candi bercorak Budha yang menjadi destinasi populer selain Candi Borobudur. Oleh karena itu, Anda tidak boleh terlewat untuk melihat pesonanya dan wajib dikunjungi selama berlibur ke Jawa Tengah ataupun berlibur di Jogja.

Candi yang hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari Borobudur ini boleh saja memiliki bangunan yang tampak kecil dan hanya terdiri atas bangunan saja. Berbeda dari Candi Borobudur, Prambanan, maupun Plaosan yang memiliki ciri khas megah dan menarik hati. Kendati demikian, bukan berarti Mendut tidak mampu menarik hati para wisatawan.

Terlebih kawasan tersebut nyatanya memiliki peranan yang sangat penting bagi umat Buddha. Bahkan berdasarkan catatan sejarah, usia dari candi satu ini jauh lebih tua bila dibandingkan dengan Candi Borobudur. Dimana Candi Mendut pertama kali ditemukan kembali di tahun 1836, dan upaya penyusunan kembali dilakukan pada tahun 1897 sampai 1904.

Sejarah Singkat Candi Mendut

Sejarah Candi Mendut
Image Credit: Twitter.com @oomyahya

Berdasarkan isi prasasti kayumwungan atau prasasti karangtengah yang ditemukan di Dusun Karangtengah, Temanggung, Jawa Tengah, candi satu ini didirikan oleh seorang raja dari Wangsa Syailendra, yaitu Raja Indra yang berkuasa di Kerajaan Medang. Saat itu konon Dinasti Syailendra tidak hanya berkuasa di daerah Jawa Tengah saja, melainkan di daerah Sumatera, India, dan Cambodia pula.

Prasasti kayumwungan yang diprediksi ditulis sekitar tahun 824 masehi oleh Raja Samaratungga tersebut, menyebutkan bahwa bangunan suci yang bernama venu vana atau wenuwana telah dibangun oleh ayahnya yakni Raja Indra. Seorang arkeolog dari Belanda, J.G. de Casparis, mengaitkan bangunan suci yang disebut sebagai wenuwana tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Candi Mendut.

Tidak hanya J.G. de Casparis saja yang menyebutkan hal ini, namun Bhiku Pannyavaro dalam sebuah video dokumenter juga mengutarakan pendapat yang senada. Dimana beliau menyebutkan bahwa nama asli dari candi satu ini adalah “Venuvana Mandira” yang berarti “Istana yang berada di tengah hutan bambu”.

Waktu berdirinya candi sendiri belum diketahui secara pasti, karena tidak ada peninggalan lain yang menyebutkan hal ini. Namun dari prasasti yang ditulis oleh Raja Samaratungga pada tahun 824 masehi, maka bisa dipastikan bahwa bangunan candi didirikan sebelum tahun tersebut atau sekitar abad ke-9.

Candi Mendut tersebut ditemukan pertama kali di tahun 1836 dengan kondisi yang hampir hancur total, kecuali bagian atapnya. Sehingga saat pertama kali ditemukan, candi ini tidak ubahnya dari serpihan bangunan yang berserakan dan tertimbun oleh semak belukar. Para arkeolog memprediksi bahwa rusaknya candi ini lantaran letusan Gunung Merapi yang terjadi di tahun 1.006 M.

Setelah penemuan candi yang berupa puing puing ini, upaya penyusunan kembali mulai dilakukan di tahun 1897. Namun karena upaya yang dilakukan memiliki hasil yang kurang memuaskan, maka rekonstruksi kembali dilakukan sepanjang tahun 1901 hingga 1904. Pembangunan kembali candi di tahun 1908 kemudian diambil alih oleh Van Erp, bersamaan dengan rekonstruksi Candi Borobudur.

Lalu di tahun 1925, atap bangunan disempurnakan dengan pemasangan stupa kecil yang dijadikan sebagai hiasan atap candi. Sejarah mengenai candi ini sendiri tidak berakhir sampai di situ saja, karena menurut sejarah Mendut mempunyai kaitan yang erat dengan Candi Pawon dan Candi Borobudur.

Pasalnya dalam buku yang ditulis Caesar Voute dengan judul “Borobudur and Its Meaning”, disebutkan bahwa letak dari situs bersejarah ini ada di bagian ujung timur garis imaginer yang membentang sepanjang 3 kilometer dari Barat ke Timur. Garis imaginer tersebut melewati Sungai Progo dan juga Sungai Elo, yang menghubungkan antara Candi Mendut, Candi Borobudur, dan Candi Pawon.

Melihat hal tersebut, banyak arkeolog yang mengaitkan lokasi dari ketiga candi yang terhubung tersebut dengan lokasi dari sungai Gangga dan Yamuna yang merupakan sungai sungai suci di India. Karena kemiripan kondisi geografisnya ditengarai sebagai pertimbangan bagi raja raja di masa lalu untuk mendirikan bangunan suci bagi agama yang mereka anut, yakni agama Buddha.

Daya Tarik Wisata Candi Mendut

Daya Tarik Wisata Candi Mendut
Image Credit: Instagram.com @1wan5etiawan

1. Bentuk Bangunan

Candi yang memiliki corak Buddha ini memiliki bentuk bangunan bujur sangkar dengan luas sekitar 13,7 x 13,7 meter persegi dengan tinggi bangunan yang mencapai 26,40 meter. Tinggi dari bagian kaki atau batur candi kurang lebih 3,7 meter, dan terdapat tangga masuk yang terdiri atas 14 anak tangga yang berada di sisi Barat Laut.

Berbeda dengan bangunan candi Buddha dan Hindu di Indonesia lainnya yang memiliki arah menghadap ke matahari terbit. Candi Mendut yang dibangun dengan material berupa batu bata kemudian dilapisi batu andesit ini memang menghadap ke arah Barat Laut. Dimana tangga dari candi berbilik satu tersebut juga berada di bagian sisi Barat Laut pula.

Dinding bagian kakinya sendiri dihiasi dengan 31 buah panel yang berbentuk bunga cantik dengan sulur suluran, serta sejumlah relief yang mempunyai cerita. Sementara untuk bagian atapnya tersusun oleh 3 kubus dengan bentuk yang semakin kecil atau meruncing ke atas. Lalu untuk bagian dalam ruangan candi mempunyai ukuran yang terbilang cukup luas.

Dimana di sana terdapat sekitar 3 buah patung Buddha setinggi 3 meter yang menghiasi. Mulai dari Buddha Sakyamuni atau Dhyani Buddha Wairocana dengan posisi duduk dan tangan membentuk sikap dharmacakramudra, seolah tengah menyampaikan ajaran. Lalu di depannya terdapat Buddha penolong manusia (Arca Bodhisattva Avalokitesvara).

Arca Bodhisattva Avalokitesvara juga berada pada posisi duduk, dengan kaki kanan yang menjuntai serta bertumpu pada bantalan teratai kecil dan kaki kiri yang terlipat. Kemudian ada pula Aca Maitreya atau Bodhisatwa pembebas manusia, yang memiliki posisi duduk dengan sikap tangan membentuk simhakasamudra.

2. Relief

Dinding bagian kaki dari Candi Mendut dihiasi dengan beberapa panil berpahat yang menggambarkan cerita dengan kandungan ajaran Buddha, atau Pancatantra dan Jataka. Pancatantra merupakan karya sastra dunia yang ditulis pada abad abad pertama masehi dan berasal dari Kashmir, India.

Sementara Jataka merupakan kumpulan cerita mengenai kehidupan kehidupan sang Buddha, sebelum menitis dan masih berwujud hewan. Sehingga di sini banyak ditemukan cerita yang dikisahkan dalam bentuk bingkai dan mengandung fabel. Di antaranya cerita Angsa dan Kura Kura, Brahmana dan Kepiting, Dharmabuddhi dan Dustabuddhi, serta Dua Burung Betet yang Berbeda.

Relief Angsa dan Kura Kura menceritakan mengenai seekor kura kura yang dibawa terbang oleh dua ekor angsa. Namun karena kura kura merasa tersinggung dengan ucapan angsa, kura kura pun melepas pegangannya sehingga ia jatuh ke tanah dan mati. Sementara relief Brahmana dan Kepiting menceritakan mengenai brahmana yang menyelamatkan seekor kepiting.

Dimana kepiting tersebut kemudian menyelamatkan brahmana dari gangguan ular dan gagak sebagai bentuk balas budi. Lalu relief Dharmabuddhi dan Dustabuddhi menceritakan dua orang sahabat yang memiliki sifat berbeda. Dustabuddhi yang mempunyai sifat tercela, suka menuduh Dharmabuddhi melakukan berbagai perbuatan tidak baik.

Namun pada akhirnya kejahatan dari Dustabuddhi terbongkar hingga ia pun dijatuhi hukuman. Kemudian untuk relief Dua Burung Betet menceritakan tentang kelakukan dua burung betet yang mempunyai sifat berbeda, karena satunya dibesarkan oleh penyamun dan satu lagi oleh brahmana. Semua relief di tubuh candi ini bisa dilihat dengan berjalan searah jarum jam.

Daya Tarik Candi Mendut
Image Credit: Google Maps (Lưu Văn Cam)

3. Elemen Elemen Candi

Elemen elemen candi yang akan ditemukan di Candi Mendut ini antara lain arca, stupa, dan jaladwara. Seperti yang telah disebutkan, terdapat 3 arca di Mendut yakni Buddha Sakyamuni atau Dhyani Buddha Wairocana, Arca Bodhisattva Avalokitesvara, dan Arca Maitreya atau Bodhisattva pembebas manusia.

Sementara berdasarkan draft rekonstruksinya, atap candi satu ini memiliki stupa berjumlah 48 buah yang meliputi 24 buah pada tingkat pertama, 16 buah stupa di tingkat kedua, serta 8 buah stupa di bagian teratas candi. Lalu jaladwara adalah saluran untuk membuang air dari selasar candi.

Dimana jaladwara sendiri memang banyak terdapat di sebagian besar candi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Di candi ini, Anda bisa menemukan beberapa tempat di sepanjang dinding luar candi yang memiliki jaladwara ini. Untuk jaladwara yang ada di candi satu ini, memiliki bentuk yang lebih kecil dan ramping bila dibandingkan dengan jaladwara pada Borobudur.

Alamat, Rute Lokasi dan Harga Tiket Masuk

Alamat Candi Mendut
Image Credit: Google Maps (Irfan Dpriyanto)

Candi Mendut berada tidak jauh dari pusat Kota Jogja, dan hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari Candi Borobudur serta 1,5 kilometer dari Candi Pawon. Secara administratif, alamatnya berada di Jalan Magelang Sumberrejo, Mendut, Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 hingga 1,5 jam perjalanan saja dari pusat 0 km Kota Jogja.

Anda bisa berkendara melewati Jalan Raya Yogyakarta menuju ke arah Magelang. Nantinya memasuki daerah Magelang ketika memasuki Kecamatan Mungkid, teruskan perjalanan sampai pertigaan lampu lalu lintas. Di sana Anda sudah bisa menemukan petunjuk arah menuju Candi Borobudur.

Belok ke arah kiri hingga Anda menemukan papan petunjuk menuju ke Candi Mendut. Ikuti saja papan petunjuk yang ada hingga Anda sampai di lokasi. Bila masih bingung, Anda bisa mengandalkan peta navigasi digital. Sementara untuk akses jalannya sendiri terbilang sudah cukup bagus, namun rutenya berbelok belok sehingga memerlukan pengemudi yang masih.

Harga tiket masuk wisata untuk melihat situs bersejarah satu ini tergolong sangat murah. Karena Anda hanya perlu mengeluarkan biaya kurang lebih Rp. 10.000 saja per orang, dengan jam operasional mulai pukul 07.00 sampai 18.00 WIB. Sementara tarif parkir yang berlaku yaitu Rp. 5.000 untuk kendaraan roda empat dan Rp. 2.000 untuk kendaraan roda dua.

Fasilitas yang Bisa Ditemukan di Candi Mendut

Fasilitas di Candi Mendut
Image Credit: Google Maps (Aulia Irfan Wazani)

Sebagai wisata sejarah yang dibuka untuk umum, kawasan Candi Mendut dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang cukup memadai. Seperti area parkir kendaraan yang cukup luas, kamar mandi bersih, mushola sebagai tempat beribadah, penginapan, dan masih banyak lagi lainnya.

Bahkan ada pula pilihan objek wisata yang bisa dieksplor di sekitar candi seperti ritual chanting, buddhist monastery, dan vihara Buddha Mendut. Beberapa tempat ini dapat membuat perjalanan liburan Anda menjadi lebih seru dan berkesan.

Candi Mendut memang menyimpan banyak pelajaran kehidupan yang disematkan pada relief reliefnya. Sehingga selain berwisata sejarah, banyak pelajaran berharga yang dapat diterima setelah berkunjung ke sini. Terlebih lokasinya yang cukup strategis membuatnya semakin tepat untuk destinasi liburan keluarga. Tunggu apa lagi?

Give a Comment